Postingan

Selang Setahun, Pribadi Yang Tidak Pernah Serius

 18/08/21 Hai.  Waktu itu memang hebat. Perjalanan panjang yang terjadi diantara kita terasa seperti sebentar. Pengalaman berarti telah kita lewati masing masing, dengan sajian rasa yang bermacam-macam dan emosi yang terus membara. Hari-hari berlalu, kita mampu meredakan emosi yang mengelilingi kepala, mampu memaafkan dirimu, diriku, dan dirinya. Kita hebat, mendobrak pintu yang begitu kuat penjagaannya. Kita hebat, mampu menguatkan hati walaupun tak sedikit guncangan yang terjadi. Apa kabar mu? Bagaimana hatimu? Aku disini, berdiri tegap menanti. Tidak akan goyah dengan apa yang sudah terjadi. Aku menaruh paku dikaki, aku memberikan sentuhan sedikit agar paku tertancap dipermukaan tanah dan aku tidak bisa melangkah. Bukan, bukan karena terpaku. Hanya saja aku ingin menanti tanpa harus merasa goyah. Yang berlalu, memang suatu yang menyakitkanmu dan aku. 03/01/2023 Yang berlalu pun ternyata tidak seasik hayalan kita. Tidak berjalan sesuai skenario yang ditunjuk. Seakan-akan ske...

Keledai yang berubah

Bulan lalu, hidup mengajari ku untuk selalu melihat sudut yang tak pernah dijamah. Hidup mengajari ku untuk menjadi sosok yang sabar. Mengajari ku bagaimana cara menerima orang yang di cinta walaupun perlahan rasa benci mulai menenggelami asa ku. Mengajari bagaimana cara rela, ketika genggaman enggan untuk lepas. Mengajari bagaimana berdiri tegap, walau raga tertikam. Mengajarkan bahwa, tidak semua lelaki, tidak semua perasaan, tidak semua bisa mereka anggap mudah.  Pikiran penuh. Semua kalimat diakhiri dengan tanda tanya, semua perlakuan berlandaskan kenapa. Kebohongan yang diberi, dikemas menjadi kejujuran. Penjelasan yang di ucap, di lontarkan seakan menjadi korban. Dunia yang kau persembahkan, seakan dongeng yang kau jalani dengan serius. Ternyata, serius mu, menjadikan dirimu sebagai keledai yang berulang kali jatuh pada lubang yang sama. Dan akupun, berulang kali memaafkan mu atas perbuatan yang sama. Aku keledai, aku terjatuh bukan karena diri sendiri, melaikan didorong untu...

Kamu Juga Perlu Nangis

Hai Fellas (wkwkw) udah lama ya icil ga nulis lagi? pantesan aja pikiran icil kusut selama ini. Ternyata menulis itu sebagai salah satu cara untuk mengurangi stress nya hidup loh. ck ini berdasarkan studi si kecil aja. Menurut icil, menangis bukan tanda kita lemah. Menangis bukan berarti kita cengeng kok. Menangis itu membuat pikiran kita menjadi plO0ong. Misalnya, kamu sedang berantem dengan seseorang dan kamu gak bisa mengekspresikan keamarahan mu dengan pertimbangan lain, kamu meluapkan emosi tersebut dengan menangis. Inget ya... menangis.. bukan sesuatu yang buruk .... Itu wajar!  kenapa? karena belum tentu dengan kamu membalas amarah mu, itu merupakan jalan yang terbaik, bisa saja itu menjadi awal bagian yang buruk bagi mu dan temanmu atau pasangan mu. Hal yang perlu kamu ketahui juga menangis membuat mata kita bersih dari kotoran. Nah, selain kamu bisa meluapkan emosi mu dengan menangis, kamu juga bisa membersihkan matamu juga. hmmm  perlu dijelaskan bahwa kotoran disini...
Jika takdir sudah berkata, mana mungkin takkan terjadi. Apapun yang kau elakkan, tetap saja akan terjadi. Begitu juga dengan jodoh. Jika sudah dihadapan, ia takkan pernah lari walaupun ditarik ulur, akan selalu berdiri tegap menunggu kamu. 

kamu yang kecewa..

coba tariklah nafas mu hingga merasa lega. fikirkan lagi amarah mu yang berbahaya. kau bisa saja membuat orang yang sayang pergi jauh karena sifat mu. ntah kau sadari atau tidak. yakinlah bahwa perasaan nya akan hilang. dia yang kau buat kecewa, jangan pernah sangka hati nya akan baik saja. coba lihat kedalam, apa yang pernah kau buat untuknya. jangan biarkan dia terbiasa karena sifat bodoh mu. jangan kau buat dia menghindar bahkan menyelesaikannya pun enggan. dia ingin kau berfikir, tapi kau sedang hilang akal. berbalik lah seperti dahulu. bayangkan bagaimana rasa nya saat kau mendapatkan dia yang berusaha membuat mu terhibur. bayangkan apa yang membuatmu bahagia . kau bisa saja berontak, tapi dia bukanlah tempat mu untuk melontarkan sisa marah mu. jangan buat dia terbiasa, terbiasa mengacuhkanmu karena amarah mu yang tak kunjung reda. jangan buat dia yang biasa bergantung, malah ingin mandiri karena sikap mu yang begitu acuh.

lagi, untuk yang kedua kali

saat semua menyerang, kenapa diri ini selalu berdiri tegap, padahal atmosfer sedang berguncang. saat semua berpaling, kenapa hati ini tetap memilih mu. saat semua meninggalkan perselisihan kenapa jiwa ini selalu berdiam, bertanya "dimana letak kesalahanku mencintainya". saat semua memaksa, kenapa hati ini seakan teriris, merasa tidak pantas untuk berbagi hati. jika bertanya mengapa, semua hanya terdiam dan selalu mengatakan bahwa kau akan tahu jawabannya. lantas dari mana aku bisa memperbaiki ketika menilai dengan pandangan ku sendiri? saat aku memilih untuk menyudahi, kenapa diri ini seakan menolak untuk melupakan, padahal untuk sebuah teori melupakan bukanlah hal yang tersulit yang pernah ada. jika melupakan adalah sebuah pekerjaan maka, mudah saja bagi orang untuk melupakan. tapi ketika melupakan adalah sesuatu yang berhubungan dengan hati, dengan perasaan apakah sanggup untuk bekerja agar melupakan? jika membenci adalah salah satu cara agar terlupakan, maka itu adalah p...

sedihkah? ini belum seberapa

lidah itu kejam, tak mampu hati menahan sayatan tajam lidah mereka yang membuat hidup ini penuh kekosongan. ataukah diri ini yang teralu tipis sehingga sedikit saja yang tergores, maka besarlah luka yang membekas? atau diri ini memang teralu bodoh yang sering memakan omongan orang? lidah memang kejam ya, tak ada yang bisa menahan kejahatan lidah. tak ada yang mampu membenahi hati yang terluka. tak ada yang mampu menghilangkan bekas luka, tak ada yang mampu. mereka hanya bisa mencemooh kita tanpa melihat kita di sisi lain. rapuh, hati ini sungguh rapuh ketika mereka mencibir ku dari belakang. apa yang harus ku lakukan? aku sama seperti mereka. apakah kekurangan ku yang membuat mereka besar kepala atau memang itu hanya lelucon saja? apakah itu leluconan yang pantas? mereka tertawa, mereka berkata apapun yang tak mereka ketahui bahwa aku mendengarkannya, bahkan aku mendengarkannya dengan jelas, aku belum tuli. tapi, aku hanya berpura-pura santai dan tidak menghiraukan apapun mereka ka...