sedihkah? ini belum seberapa
lidah itu kejam, tak mampu hati menahan sayatan tajam lidah mereka yang membuat hidup ini penuh kekosongan. ataukah diri ini yang teralu tipis sehingga sedikit saja yang tergores, maka besarlah luka yang membekas? atau diri ini memang teralu bodoh yang sering memakan omongan orang?
lidah memang kejam ya, tak ada yang bisa menahan kejahatan lidah. tak ada yang mampu membenahi hati yang terluka. tak ada yang mampu menghilangkan bekas luka, tak ada yang mampu. mereka hanya bisa mencemooh kita tanpa melihat kita di sisi lain. rapuh, hati ini sungguh rapuh ketika mereka mencibir ku dari belakang. apa yang harus ku lakukan? aku sama seperti mereka. apakah kekurangan ku yang membuat mereka besar kepala atau memang itu hanya lelucon saja? apakah itu leluconan yang pantas?
mereka tertawa, mereka berkata apapun yang tak mereka ketahui bahwa aku mendengarkannya, bahkan aku mendengarkannya dengan jelas, aku belum tuli. tapi, aku hanya berpura-pura santai dan tidak menghiraukan apapun mereka katakan. apakah aku tahan? tidak. hati ini bukan baja yang mampu menahan terjangan badai. apa kau tau betapa sedih hati yang kumiliki? apakah aku salah menyedihkan omongan mereka? apa aku pantas begini atau aku teralu lebai sehingga teralu sibuk untuk memasukkan omongan mereka ke hati?
apakah mereka tidak pernah merasakan jika mereka diposisi ku? apa perlu mereka merasakannya? jika tidak, apakah mereka masih punya hati? masihkah bisa merasakan kesedihan orang?
aku bingung, kenapa saat itu mereka menahan ku? aku tidak bermaksud menyalah atau tidak bersyukur. sekarang aku seperti seseorang yang tak ada apa apa nya. semua seisi dunia menyalahkan ku. menyalahkan keberadaan ku. apakah ini hanya perasaan ku saja atau ini memang benar adanya?
hati ini terlalu bahkan mudah sekali hancur. aku tak tau mengapa dan apa alasannya. ak tidak kuat, itu saja.
apakah bisa berbicara tanpa mampu menoreh hati yang tipis ini? bisa kah berbicara tanpa membuat hati ini terluka? aku sangat mengharapkan itu.
banyak kekesalan yang menumpuk, tapi tak pernah ku hiraukan. ku biarkan semua berlalu karna itu yang pantas. tak ku hiraukan seperti apa mereka katakan, apapun itu. tapi sadarkah kalau aku masih memiliki hati? tak pernah ku mengungkit, membalas sekalipun takkan pernah ada niat. tp tak sadarkah mereka kalau aku begini karena apa? aku lepaskan semua beban hingga sampai sekarang aku tak pernah mengingat segala sesuatu yang pernah membebani ku. aku biarkan semua pikiran terbang hingga tak tau jalan pulang ke pikiran ku lagi. aku berusaha tenang, tetap di posisi ku saat ini. tapi kali ini bagaikan batu besar yang meledak dahsyat. bebatuan besar itu berubah menjadi serpihan kecil dan besar. membuat sebuah ledakan yang orang orang bertanya mengapa.
apa ini namanya? teralu lugu kah? sensitifkah? atau teralu bodoh? sebutan apa yang pantas ku dapati?
jelekkah sifat seperti ini? atau haruskah ku buang sifat seperti ini?
aku bingung
lidah memang kejam ya, tak ada yang bisa menahan kejahatan lidah. tak ada yang mampu membenahi hati yang terluka. tak ada yang mampu menghilangkan bekas luka, tak ada yang mampu. mereka hanya bisa mencemooh kita tanpa melihat kita di sisi lain. rapuh, hati ini sungguh rapuh ketika mereka mencibir ku dari belakang. apa yang harus ku lakukan? aku sama seperti mereka. apakah kekurangan ku yang membuat mereka besar kepala atau memang itu hanya lelucon saja? apakah itu leluconan yang pantas?
mereka tertawa, mereka berkata apapun yang tak mereka ketahui bahwa aku mendengarkannya, bahkan aku mendengarkannya dengan jelas, aku belum tuli. tapi, aku hanya berpura-pura santai dan tidak menghiraukan apapun mereka katakan. apakah aku tahan? tidak. hati ini bukan baja yang mampu menahan terjangan badai. apa kau tau betapa sedih hati yang kumiliki? apakah aku salah menyedihkan omongan mereka? apa aku pantas begini atau aku teralu lebai sehingga teralu sibuk untuk memasukkan omongan mereka ke hati?
apakah mereka tidak pernah merasakan jika mereka diposisi ku? apa perlu mereka merasakannya? jika tidak, apakah mereka masih punya hati? masihkah bisa merasakan kesedihan orang?
aku bingung, kenapa saat itu mereka menahan ku? aku tidak bermaksud menyalah atau tidak bersyukur. sekarang aku seperti seseorang yang tak ada apa apa nya. semua seisi dunia menyalahkan ku. menyalahkan keberadaan ku. apakah ini hanya perasaan ku saja atau ini memang benar adanya?
hati ini terlalu bahkan mudah sekali hancur. aku tak tau mengapa dan apa alasannya. ak tidak kuat, itu saja.
apakah bisa berbicara tanpa mampu menoreh hati yang tipis ini? bisa kah berbicara tanpa membuat hati ini terluka? aku sangat mengharapkan itu.
banyak kekesalan yang menumpuk, tapi tak pernah ku hiraukan. ku biarkan semua berlalu karna itu yang pantas. tak ku hiraukan seperti apa mereka katakan, apapun itu. tapi sadarkah kalau aku masih memiliki hati? tak pernah ku mengungkit, membalas sekalipun takkan pernah ada niat. tp tak sadarkah mereka kalau aku begini karena apa? aku lepaskan semua beban hingga sampai sekarang aku tak pernah mengingat segala sesuatu yang pernah membebani ku. aku biarkan semua pikiran terbang hingga tak tau jalan pulang ke pikiran ku lagi. aku berusaha tenang, tetap di posisi ku saat ini. tapi kali ini bagaikan batu besar yang meledak dahsyat. bebatuan besar itu berubah menjadi serpihan kecil dan besar. membuat sebuah ledakan yang orang orang bertanya mengapa.
apa ini namanya? teralu lugu kah? sensitifkah? atau teralu bodoh? sebutan apa yang pantas ku dapati?
jelekkah sifat seperti ini? atau haruskah ku buang sifat seperti ini?
aku bingung
Komentar