Keledai yang berubah
Bulan lalu, hidup mengajari ku untuk selalu melihat sudut yang tak pernah dijamah. Hidup mengajari ku untuk menjadi sosok yang sabar. Mengajari ku bagaimana cara menerima orang yang di cinta walaupun perlahan rasa benci mulai menenggelami asa ku. Mengajari bagaimana cara rela, ketika genggaman enggan untuk lepas. Mengajari bagaimana berdiri tegap, walau raga tertikam. Mengajarkan bahwa, tidak semua lelaki, tidak semua perasaan, tidak semua bisa mereka anggap mudah.
Pikiran penuh. Semua kalimat diakhiri dengan tanda tanya, semua perlakuan berlandaskan kenapa.
Kebohongan yang diberi, dikemas menjadi kejujuran. Penjelasan yang di ucap, di lontarkan seakan menjadi korban. Dunia yang kau persembahkan, seakan dongeng yang kau jalani dengan serius. Ternyata, serius mu, menjadikan dirimu sebagai keledai yang berulang kali jatuh pada lubang yang sama.
Dan akupun, berulang kali memaafkan mu atas perbuatan yang sama.
Aku keledai, aku terjatuh bukan karena diri sendiri, melaikan didorong untuk merasakan jurang mu.
Aku terperangkap dilubang yang besar.
Keraguan melepaskan mu, menjadikan ancaman untuk kehidupanku.
Arahmu hilang, tujuan mu, kau lupakan. Kau menikmati, melepaskan ku dari genggamanmu. Sehingga kau lupa, kuatnya genggamanmu membuat remuk hatiku, hancur berkeping karena terlepas dari genggamanmu yang begitu kencang.
Angin yang kau tiupkan meruntuhkan dunia. Dunia yang pernah kau ciptakan. Selamat atas kebesaran yang telah menyempurnakan hidupmu. Selamat atas jiwa mu yang telah lama ku kenal, namun telah hilang dimakan angkuh nya hidupmu. Terima kasih atas semua yang telah terjadi. Kini ku mampu merelakan sosokmu yang selalu ku banggakan, aku mampu. Aku mampu mengubah dunia ku dan seisi nya tanpa harus melibatkan jiwa mu.
Komentar