Postingan

Dunia mu

Saat mengelilingi dunia mu, tak sangka ku menemukan bulan yang memancarkan sinar terang nya.  Bulan nan setia pada langit yang sepi. Ribuan bintang yang membentang, memberikan secercah kehidupan. Matahari yang memberikan kehangatan jiwa dan desiran angin, bak sentuhan kedamaian.  Tidak mengenal warna yang melekat pada makhluk hidupnya, dunia itu selalu memberikan kenyamanan. Tidak mengenal waktu. Samudera yang begitu dalam, ombak yang besar, gunung yang tertinggi. Gunung yang kau susun begitu tinggi, seakan ingin mengatakan bahwa, "berjalanlah menuju puncak ku, maka, kau akan menemui matahari yang begitu dekat, kehangatan pada ragamu. Agar kau merasa dunia yang ku punya, milik mu seutuhnya". "...Agar kau dapat merasakan dunia ku, sepanjang hidupmu". Semua yang ada pada dunia mu, ingin ku raih.  Saat ku menjelajahi isi mu, deburan ombak dibibir pantai seakan bersenandung dan membuat ku hilang pada konsentrasiku, yang memaksaku dengan tenang untuk mengikuti gulunganny...

Wil,

Halo, kalo kamu baca tulisan ku. Maka, ya ini di siang hari jam 11.14 pada tanggal 27 November 2023 dengan situasi cuaca mendung gelap dan telah menumpahkan air nya sepanjang perjalanan ku menuju kantor. cukup basah, tidak bisa kering. Begitu lembab, seperti kondisi pada hari ini. Malam tadi cukup panjang ya? Aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang tak pernah terlihat. Bahkan bisa dikatakan aku benar benar ingin terlihat kuat. Aku menyembunyikan banyak pertanyaan yang mungkin saja pernah aku sampaikan. Aku memberikan mu akses ke dalam tulisan ku yang tak ada satupun mengetahuinya. Sebelum itu, aku masih PD dengan tingkat pesona yang kumiliki HAHA Cukup membuat pendatang baru yang berasal dari Java, terpesona. Mungkin aku bukan yang pertama kalinya, tapi aku masuk dikategori itu. Bukan itu yang ingin ku ceritakan, tapi. Aku Dinda, just make sure you are already know me so well. Banyak yang pernah kuceritakan, namun saat itu aku hanya butuh validasi atas apa yang aku lakukan. ...
 Hallo. Ini bulan ke sekian aku berhasil tidak mengingat semua tentang mu, walaupun luka yang kau gores masih membekas. Langkah kakiku tak pernah berhenti karena ulah mu, hanya saja perasaan itu membeku seketika. Aku tetap berjalan, mencoba untuk menyapa. Aku berkenalan dengan pribadi yang baru. Aku menjadi aku, yang tak pernah kau rasakan. Bukan topeng, hanya saja aku teralu kaku didepan mu. Aku mengenal pribadi lain pada saat kau benar benar memanipulatif keadaan. Mencoba untuk beriringan, namun prinsip kita berbeda. Aku mencari kenyamanan, bukan penamaan atas penilaian. Aku mencari pelindung, bukan seseorang yang terpaksa untuk melindungi, aku mencari pribadi yang apa adanya, tanpa harus mengikuti "kata orang". Aku mencari pribadi yang tulus, bukan untuk meminta balas, tapi yang tulus mengerti. Walaupun terasa tulus tapi bersinggung dengan ambisi mu. Aku teralu rumit untuk saat ini. Seorang penasehat pernah menyampaikan "obati dulu aja agar sembuh, tapi jangan lupa un...

Pelukan Siang Mu

 Tuan, kau menemui tubuh ini dengan rasa percaya mu. kau meninggalkan tubuh ini dengan pelukan yang mungkin takkan kau lepaskan.  entah itu salam terakhir kita. atau itu pertanda bahwa kau akan merindu dan segera menenemui ku lagi? aku membiarkan rasa itu bergantung pada keputusan sang pencipta. bukannya menyerah. namun, aku sudah takut untuk melangkah semena-mena. aku, lelah untuk menaruh segala harapan pada manusia yang ku cinta. belum kusadari, tanpa perlu menyangkal. kau hadir, namun ku belum bisa pastikan rasa nya. belum sempat kusadari atau memang belum tersadar. temani saja aku. itu cukup untuk ku. semuanya tidak perlu terburu-buru. tidak perlu terkejar kejar. jalani hingga waktu lelah berdenting.

Wanita itu,

Wanita itu kuat. Dia adalah ciptaanNya yang terkuat. bagiku. Aku mencintainya hingga tak mampu ku ungkapkan. Aku menginginkan nya, hingga tak lagi bisa ku gapai dalam dekat. Aku mendambakannya, hingga tak lagi bisa ku lihat senyumnya. Aku merindu,  dan, Aku kehilangan. Teralu lama diri ini mencari. Tercari-cari dimana harus ku letakkan rindu yang ingin ku sampaikan. Dimana harus ku letakkan rindu yang tak bertuan. Dimana harus ku letakkan rindu yang tak bernyawa. Dimana harus ku letakkan rindu yang nyata? Arah yang beraturan, menjadi persimpangan dilema.  Asa yang penuh, hilang sembari ombak menarik butiran pasirnya.

Lelaki Berkumis Tebal

hi. seperti apa kehidupan nyata mu? seperti apa perasaan mu? kau hanya mengungkapkan tanpa meminta. aku menunggu, tanpa diminta. usaha apa yang sedang kau lakukan?  apakah ini perasaan, yang hanya bisa ku rasakan namun tak pernah bisa untuk menyatakan? apakah aku akan melewati sisi terbaikmu? apakah kau hanya sebagai singgahan yang dikirim? persinggahan apa yang membuat mu nyaman dengan situasi ini? kita bergantung pada hari, tapi tak pernah menaruh harapan di masing-masing diri. kita berjalan, tanpa memikirkan lapisan langit. langkah kaki selalu membawa ke satu tujuan, tapi aku ragu. bahwa, tujuan kita tidak pernah diciptakan. melainkan hanya ciptaan sendiri. kekuatanku, tak cukup untuk meyakinkan perasaanku. namun, ketakutan ku cukup untuk membendung. pertunjukkan apa yang sedang kau jalani? aku selalu bertanya, sampai kapan kau terus begini?

Senyum Tuan

Wahai tuan. Hati ini membuka perlahan, meskipun ketakutan masih tertahan. Jiwa ini mulai terbuai, walau raga masih nampak ragu. Tuan, kepada siapakah kau menaruh senyum itu? lalu, pada siapakah mata itu tertuju? sudut siapa yang kau kenali hingga tatapan mu begitu jauh, hampir tak ku sadari. Tuan, paras seperti apa yang mampu menggetarkan hatimu? lantas, seperti apa ramuan mu hingga mampu menggetarkan jiwa yang hampir mati? kemana kan kau bawa jiwa yang tergetar oleh mu, tuan? akan kah waktu mu selalu berteman dengan jiwa yang tergetar oleh ulahmu? atau, kau memilih pergi jikatugas mu selesai? jawaban seperti apa yang akan ku dapatkan, tuan? Wahai tuan dengan seisinya. dunia seperti apa yang kau cari? perjalanan seperti apa yang kau butuhkan? kepada siapa tujuan mu tertanam? adakah jiwa yang mampu menggetarkan dunia mu? apakah aku? adakah yang lainnya? tak kuharap siapapun, kecuali diri ini yang bergejolak karena mu. berkunjung seperti apa yang tuan ingini? lalu, tulus seperti apa yang...